Pembenihan lele sangkuriang

Posted in Pembibitan Lele on 16 Februari 2011 by imamasn

Berikut Sekilas Pandang Teknik pembenihan Lele Sangkuriang

1.Pengelolaan Induk

  • Induk ikan lele SANGKURIANG yang akan digunakan dalam   kegiatan proses produksi harus tidak berasal dari satu keturunan dan memiliki karakteristik kualitatif dan kuantitatif yang baik , daya tetas telur, pertumbuhan cepat. Karakteristik tersebut dapat diperoleh ketika dilakukan kegiatan produksi induk dengan proses seleksi yang ketat.
  • Persyaratan reproduksi induk betina ikan lele SANGKURIANG antara lain: umur minimal dipijahkan 1 tahun, berat 0,70 – 1,0 kg dan panjang standar 25 – 30 cm. Sedangkan induk jantan antara lain: umur 1 tahun, berat 0,5 – 0,75 kg dan panjang standar 30 – 35 cm.
  • Induk betina yang siap dipijahkan adalah induk yang sudah matang gonad. Secara fisik, hal ini ditandai dengan perut yang membesar dan lembek. Secara praktis hal ini dapat diamati dengan cara meletakkan induk pada lantai yang rata dan dengan perabaan pada bagian perut. Sedangkan induk jantan ditandai dengan warna alat kelamin yang berwarna kemerahan.
  • Jumlah induk jantan dan induk betina tergantung pada rencana produksi dan sistem pemijahan yang digunakan. Pada sistem pemijahan buatan diperlukan banyak jantan sedangkan pada pemijahan alami dan semi alami jumlah jantan dan betina dapat berimbang. Induk lele SANGKURIANG sebaiknya dipelihara secara terpisah dalam kolam tanah atau bak tembok dengan padat tabr 5 ekor/m2 dapat dengan air mengalir ataupun air diam. Pakan yang diberikan berupa pakan komersial dengan kandungan protein diatas 25% dengan jumlah pakan sebanyak 2 – 3 % dari bobot biomasa dan frekuensi pemberian 3 kali per hari.

2. Pemijahan dan Pemeliharaan Larva

  • Pemijahan ikan lele SANGKURIANG dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu: pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding). Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang gonad kemudian dipijahkan secara alami di bak/wadah pemijahan dengan pemberian kakaban. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara alami. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara buatan.
  • Pemijahan alami dan semi alami menggunakan induk betina dan jantan dengan perbandingan 1 : 1 baik jumlah ataupun berat. Bila induk betina atau jantan lebih berat dibanding lawannya, dapat digunakan perbandingan jumlah 1 : 2 yang dilakukan secara bertahap. Misalnya, induk betina berat 2 kg/ekor dapat dipasangkan dengan 2 ekor induk jantan berat 1 kg/ekor. Pada saat pemijahan, dipasangkan induk betina dan jantan masing-masing 1 ekor. Setelah sekitar setengah telur keluar atau induk jantan sudah kelelahan, dilakukan penggantian induk jantan dengan induk yang baru. Wadah pemijahan dapat berupa bak plastik atau tembok dengan ukuran 2 x 1 m dengan ketinggian air 15 – 25 cm. Kakaban untuk meletakkan telur disimpan di dasar kolam.
  • Pemijahan buatan menggunakan induk betina dan jantan dengan perbandingan berat 3 : 0,7 (telur dari 3 kg induk betina dapat dibuahi dengan sperma dari jantan berat 0,7 kg).
  • Pemijahan semi alami dan buatan dilakukan dengan melakukan penyuntikan terhadap induk betina menggunakan ekstrak pituitari/hipofisa atau hormon perangsang (misalnya ovaprim, ovatide, LHRH atau yang lainnya). Ekstrak hipofisa dapat berasal dari ikan lele atau ikan mas sebagai donor. Penyuntikan dengan ekstrak hipofisa dilakukan dengan dosis 1 kg donor/kg induk (bila menggunakan donor ikan lele) atau 2 kg donor/kg induk (bila menggunakan donor ikan mas). Penyuntikan menggunakan ovaprim atau ovatide dilakukan dengan dosis 0,2 ml/kg induk.
  • Penyuntikan dilakukan satu kali secara intra muscular yaitu pada bagian punggung ikan. Rentang waktu antara penyuntikan dengan ovulasi telur 10 – 14 jam tergantung pada suhu inkubasi induk.

2.aProsedur pemijahan buatan meliputi:

  • Pemeriksaan ovulasi telur pada induk betina
  • Pengambilan kantung sperma pada ikan jantan
  • Pengenceran sperma pada larutan fisiologis (NaCl 0,9%) dengan perbandingan 1 : 50 – 100
  • Pengurutan induk betina untuk mengeluarkan telur
  • Pencampuran telur dan sperma secara merata untuk meningkatkan pembuahan (fertilisasi)
  • Penebaran telur yang sudah terbuahi secara merata pada hapa penetasan.
  • Penetasan telur sebaiknya dilakukan pada air yang mengalir untuk      menjamin ketersediaan oksigen terlarut dan penggantian air yang kotor   akibat pembusukan telur yang tidak terbuahi. Peningkatan kandungan oksigen terlarut dapat pula diupayakan dengan pemberian aerasi.

Telur lele SANGKURIANG menetas 30 – 36 jam setelah pembuahan pada suhu 22 – 25 oC. Larva lele yang baru menetas memiliki cadangan makanan berupa kantung telur (yolksack) yang akan diserap sebagai sumber makanan bagi larva sehingga tidak perlu diberi pakan. Penetasan telur dan penyerapan yolksack akan lebih cepat terjadi pada suhu yang lebih tinggi. Pemeliharaan larva dilakukan dalam hapa penetasan. Pakan dapat mulai diberikan setelah larva umur 4 – 5 hari atau ketika larva sudah dapat berenang dan berwarna hitam.

3. Pendederan I dan Pendederan II

Benih ikan lele dapat dipelihara dalam bak plastik, bak tembok atau kolam     pendederan. Pakan yang diberikan berupa cacing Tubifex, Daphnia, Moina atau pakan buatan dengan dosis 10 – 15% bobot biomass.

Iklan

Memilih indukan untuk pembibitan lele

Posted in Pembibitan Lele with tags , , on 15 Februari 2011 by imamasn

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan indukan lele
yang aan digunakan untuk pembibitan.

1. Ciri-ciri induk lele jantan:
– Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
– Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.
– Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah
belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan.
– Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress).
– Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele
betina.
– Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor
akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani).
– Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.

2. Ciri-ciri induk lele betina
– Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.
– Warna kulit dada agak terang.
– Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna
kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.
– Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.
– Perutnya lebih gembung dan lunak.
– Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke
arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).

3. Syarat induk lele yang baik:
– Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
– Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak kecil
supaya terbiasa hidup di kolam.
– Berat badannya berkisar antara 100-200 gram, tergantung kesuburan
badan dengan ukuran panjang 20-5 cm.
– Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak cacat, tidak luka, dan
lincah.
– Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan induk betina
berumur satu tahun.
– Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali, dan sepanjang hidupnya
bisa memijah lebih dari 15 kali dengan syarat apabila makanannya
mengandung cukup protein.

4. Ciri-ciri induk lele siap memijah adalah calon induk terlihat mulai
berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang betina.
Induk tersebut segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam tersendiri
untuk dipijahkan.

5. Perawatan induk lele:
– Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi
makanan yang berkadar protein tinggi seperti cincangan daging bekicot,
larva lalat/belatung, rayap atau makanan buatan (pellet). Ikan lele
membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatif
tinggi, yaitu ± 60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk
lele, karena kandungan lemaknya tinggi. Pemberian cacing sutra harus
dihentikan seminggu menjelang perkawinan atau pemijahan.
– Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari
berat total ikan.
– Setelah benih berumur seminggu, induk betina dipisahkan, sedangkan
induk jantan dibiarkan untuk menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru
bisa dipindahkan apabila anak-anak lele sudah berumur 2 minggu.
– Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang
penyakit untuk segera diobati.
– Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun kecepatan aliran
tidak perlu deras, cukup 5-6 liter/menit.

Hello world!

Posted in Uncategorized on 11 Februari 2011 by imamasn

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!